Kembalinya Graham Potter yang mengejutkan! Mantan pelatih West Ham dan Chelsea semakin dekat dengan pekerjaan di Swedia setelah mengungkapkan ‘perasaan’ terhadap negara tersebut

Graham Potter dikabarkan akan segera kembali melatih tim nasional Swedia. Mantan pelatih Chelsea dan West Ham ini secara terbuka mengakui “perasaannya” terhadap Swedia dan disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Jon Dahl Tomasson, yang dipecat setelah penampilan buruk di kualifikasi Piala Dunia yang membuat tim Skandinavia itu terpuruk di posisi juru kunci grup.

Potter akan bergabung dengan Swedia

Menurut media Swedia, AftonBladet, Potter akan segera pindah ke kancah internasional yang sensasional sebagai manajer baru Swedia setelah pemecatan Tomasson. Asosiasi Sepak Bola Swedia (SvFF) mengonfirmasi pemecatan pelatih kepala tersebut setelah kekalahan memalukan 1-0 dari Kosovo — pertandingan keempat berturut-turut tanpa kemenangan — membuat tim nasional berada di dasar klasemen Grup B kualifikasi Piala Dunia 2026.

Ketua Simon Astrom mengatakan keputusan tersebut didorong oleh kebutuhan akan “kepemimpinan baru” untuk menghidupkan kembali harapan lolos kualifikasi melalui jalur playoff potensial pada bulan Maret. Potter, yang telah menganggur sejak meninggalkan West Ham bulan lalu, kini menjadi kandidat terdepan untuk mengambil alih posisi tersebut dalam jangka pendek. Penunjukannya akan mempertemukannya kembali dengan negara di mana ia sebelumnya menikmati kesuksesan luar biasa selama tujuh tahun masa jabatannya di Ostersunds FK. Kesepakatan itu, jika difinalisasi, akan menempatkan Potter dalam tugas menyelamatkan kampanye Piala Dunia Swedia yang sedang terpuruk dan membangkitkan kembali kebanggaan nasional.

Bencana Kualifikasi Piala Dunia Swedia

Kampanye kualifikasi Piala Dunia Swedia telah berubah menjadi kacau, yang memicu pemecatan manajer pertama dalam sejarah negara tersebut. Kekalahan mengejutkan mereka dari Kosovo, yang diperparah dengan kekalahan kandang 2-0 dari Swiss, telah membuat harapan tim berada di ujung tanduk. Meskipun diperkuat bintang-bintang Liga Primer seperti Alexander Isak, Viktor Gyokeres, dan Lucas Bergvall, tim tersebut gagal meraih hasil positif di bawah kepemimpinan Tomasson.

Kepala SvFF, Kim Kallstrom, menyatakan bahwa meskipun tim masih memiliki potensi, “sepak bola berbasis hasil, dan kami telah mencapai titik di mana hasil saja tidak cukup.” Penunjukan Potter yang potensial ini merupakan kembalinya ke wilayah yang familiar sekaligus upaya penebusan setelah masa-masa sulit di Chelsea dan West Ham.

Sejarah Potter di Swedia

Hubungan Potter dengan sepak bola Swedia sangat mendalam, dan kecintaannya terhadap negara tersebut telah terdokumentasi dengan baik. Berbicara kepada Fotbollskanalen awal pekan ini, pria berusia 50 tahun itu mengatakan: “Saya terbuka untuk apa pun yang saya rasa dapat saya bantu. Pekerjaan sebagai manajer tim nasional Swedia sangat fantastis. Saya memiliki perasaan untuk Swedia. Saya mencintai negara ini dan saya mencintai sepak bola Swedia. Saya sangat bersyukur atas sepak bola Swedia.” Di Swedia-lah Potter meraih kesuksesan, dengan membawa Ostersunds FK dari divisi empat ke divisi utama dan ke kompetisi Eropa. Metode inovatifnya — memadukan kecanggihan taktis dengan pengembangan pemain dan kegiatan budaya di luar lapangan — membuatnya mendapatkan pujian di seluruh Eropa.

Setelah meninggalkan Ostersund pada tahun 2018, ia melatih Swansea dan Brighton sebelum menjalani masa-masa penuh tekanan di Chelsea dan West Ham. Meskipun reputasinya tercoreng setelah serangkaian hasil buruk di London, kekagumannya terhadap Swedia dan budaya sepak bolanya tetap tak tergoyahkan, menjadikan reuni potensial ini lebih emosional daripada sekadar profesional.

Apa selanjutnya?

Prioritas utama Swedia adalah mengamankan jalur playoff menuju Piala Dunia 2026, dan kedatangan Potter dapat menyuntikkan keyakinan dan struktur yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Peringkat Nations League tim nasional masih menawarkan secercah harapan — jika enam tim dengan peringkat lebih tinggi lolos otomatis, Swedia bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk mencapai final.

Bagi Potter, kesempatan ini merupakan awal yang baru setelah babak sulit dalam sepak bola Inggris. Masa jabatan singkatnya di West Ham berakhir dengan kekecewaan, hanya memenangkan enam dari 25 pertandingan dan membuat Hammers berada di peringkat ke-19 di Liga Premier. Namun, rekam jejaknya dalam membangun kembali tim dan menanamkan identitas yang jelas dapat terbukti sangat berharga di panggung internasional.

Jika ditunjuk, Potter akan mewarisi skuad dengan kualitas teknis namun kepercayaan diri yang rapuh — dan dengan figur-figur seperti Isak, Gyokeres, dan Victor Lindelof yang dimilikinya, fondasinya kokoh. Sebuah perubahan haluan jangka pendek yang sukses tidak hanya dapat membangkitkan kembali harapan Swedia di Piala Dunia, tetapi juga membangun kembali reputasi manajerial Potter.

Leave a Reply